White “Secrets” Little Scandal [Chapter 6]

white

Author : morschek96

Tittle : White “secrets” Little Scandal

Genre : Drama, Life, General, Psychology

Cast:

Han Sora, Kim Jong In, Oh Sehun

Others.

[i’m scared]

***

Bau khas perkakas baru sangat kentara diseluruh penjuru tempat ini. Oh Sehun sedang meminta untuk ditemani membeli sepatu, tak ada penolakan dari Sora karena jujur saja ia akan sangat bosan jika sepulang sekolah hanya duduk berdiam diri di rumah karena Kris sedang berada di luar kota dan akan kembali besok Sabtu.

“Bagaimana menurutmu dengan yang ini?” Tanya Sehun dengan membawa dua pasang sepatu Converse berwarna merah dan biru.

“Menurutku yang warna merah lebih menarik.”

“Ah, baiklah.” Ujar Sehun lalu membawa sepatu pilihannya menuju meja cassier.

Setelah beberapa saat menunggu akhirnya Sehun kembali dengan membawa sebuah papperbag berisi sepatunya. Ia melihat Sora yang tengah asik memandangi sneakers untuk wanita.

“Kau ingin yang mana? Biar aku belikan.”

Sora terkejut akan keberadaan Sehun yang tiba-tiba telah berdiri dibelakangnya. Lalu menggeleng pelan sebagai jawaban. “Tidak perlu Hun-ah.. kau tahu? Kau sangat baik padaku dan itu sudah membuatku senang.”

Sehun tersenyum pelan lalu menggandeng tangan Sora menuju tempat parkir. Mereka berinisiatif untuk mampir ke rumah Sehun sebentar, karena sedari tadi Sehun terus memaksa dengan alasan Sora belum pernah menginjakkan kaki dirumahnya.

Dan akhirnya Sora hanya mengangguk sebagai persetujuan.

.

Hari ini telah mulai memasuki musim dingin. Yang nampak disana adalah pepohonan dengan daun yang mulai berguguran, kecuali pohon pinus yang habitatnya memang pada kondisi seperti ini. Juga temperatur yang mulai menurun dari hari demi hari.

Keduanya memasuki sebuah rumah dengan pagar baja yang tak lain adalah rumah Sehun. Memutar kenop pintu dan masuk kedalamnya, tak terlalu mewah sebenarnya. Namun cukup untuk menampung 12 anggota keluarga, tapi hanya ada 3 orang dan 2 pembantu yang menghuni rumah ini.

Sora melihat dua orang paruh baya yang duduk menghadap televisie di ruang keluarga. Merasa akan keberadaan seseorang membuat keduanya menorehkan pandangan kepada Sehun dan Sora. “Kau sudah pulang Hun-ah?” Tanya Eomma Sehun sambil berdiri melangkah mendekat.

“Ne eomma, dan aku membawa temanku.”

Sora membungkuk kearah keduanya. Ia baru tahu ternyata Eomma Sehun sangat mirip dengan Sehun, terlihat mereka mempunyai mata dan dagu yang sama.

“Teman.” Ulang appa Sehun sambil melirik kearah isterinya. Yang keduanya kini saling bertatapan. Membuat Sora tak paham akan atmosfer yang sedang terjadi saat ini.

Sehun berjalan menaiki tangga guna mengganti pakaiannya, setelah itu ia akan langsung mengantar Sora pulang.

“Siapa namamu nak?” Tanya Eomma Sehun. Lalu meminta Sora untuk duduk di sofa dengan gesture tubuhnya. Kemudian berjalan pelan menuju dapur guna mengambil segelas air untuk Sora.

“Sora imnida ajhuma.” Ujar Sora kikuk. Pandangan kedua orang tua Sehun kepadanya entah mengapa seakan— mereka terlihat kasihan dan iba kepada Sora. Padahal Sora tidak dalam suatu masalah atau kesulitan apapun.

Eomma Sehun kembali membawa trai dengan segelas air diatasnya. Lalu meletakkan di meja yang berada ditengah-tengah mereka.

“Kau sudah berapa lama mengenal Sehun?” kini giliran Appa sehun yang bertanya padanya. Pandangannya masih sama, terlihat khawatir kepada Sora.

“Saya sudah mengenal Sehun sejak sekolah dasar, tapi sebelum memasuki Junior High School saya telah pindah ke luar negeri ajhussi. Dan tahun ini saya kembali lagi ke Korea.”

“Oh begitu apakah—

Sebelum melanjutkan kalimatnya, Sehun telah berada di anak tangga kedua dan mengisyaratkan Sora agar segera berdiri dan ia akan mengantarkan Sora pulang.

“Tenang saja Appa, aku akan menjaganya.” Ujar Sehun lalu melangkah beriringan dengan Sora.

Terlihat kedua orang paruh baya itu saling bertatapan. Terlihat bingung juga khawatir. Entah apa yang sedang mereka pikirkan, namun tentu bukan sesuatu yang baik. Mereka sangat mengenal anaknya itu, sangat. Terlebih lagi yang sering terjadi belakangan tahun ini.

.

.

.

***

Hari ini Kris telah berada di rumah, pertanda urusannya baru saja selesai. Namun tak sepenuhnya selesai, hanya saja untuk bulan ini ia telah menjalankan tugasnya sebagai seorang yang sangat dipercaya Mr.Han, ayah Sora.

Ia melangkah maju lalu memutar kenop pintu, sedikit menyembulkan kepalanya karena ia hanya sedikit membuka pintu tersebut. Dilihatnya Sora yang tengah berbaring sambil memainkan smartphone kesayangannya. Dengan gerakan perlahan ia mulai berjalan masuk dan duduk di tepi tempat tidur Sora.

“Oppa, kau sudah pulang?” terlihat senyum bahagia Sora yang kian mengembang. Jujur saja ia sangat merindukan sosok lelaki itu lantaran sudah 2 hari tidak bertemu.

Kris tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban. “Merindukanku eoh?” godanya pada Sora.

“Ne” tak tanggung-tanggung Sora menjawab mantab lalu merangkul erat tubuh lelaki itu. Ia sudah menganggap Kris sebagai kakak kandungnya sendiri. Karena sudah hampir 4tahun lamanya mereka saling kenal.

Pada awalnya Sora mengira Kris adalah rekan bisnis keluarganya di Canada, namun ia salah. Ternyata lelaki tinggi ini malah bekerja untuk keluarganya, setelah lulus S1 Kris memutuskan untuk langsung mencari pekerjaan dan jadilah ia bekerja pada Mr.Han.

“Oppa tidak melupakan pesananku kan?”

Kris Nampak terkejut, o oww..

Dan harus membuat Sora menekuk mukanya. Padahal ia sangat berharap akan segera memakan Vanilla terlezat di Korea.

“Maafkan oppa.”

“Kris oppa jahat.” Ujarya sebal sambil mempoutkan bibirnya. Dan malah membuat Kris terkekeh lalu mengacak pelan puncak kepala gadis itu.

“Maafkan oppa karena oppa barusaja berbohong, oppa membawakanmu 4 kotak penuh di lemari es.”

“Benarkah?? Aisshh Kris oppa memang yang terbaik—

JDERRR!!!

Apa?! Hujan di awal musim gugur?

Belum sempat Sora melanjutkan kalimatnya, sebuah guntur nyatanya sudah terlebih dulu menyela. Membuat gadis itu reflek menangkupkan kedua tangannya ke masing-masing telinga. Tepat setelah itu terdengar hujan dengan derasnya mengguyur permukaan kota, namun kenapa harus ada guntur dan petir? Sora sangat membenci kedua hal itu. Sangat.

Takkan pernah ia lupakan kejadian sewaktu kecil dimana ia harus semalaman tidur meringkuk didalam lemari hanya agar tak mendengar suara-suara mengerikan tersebut.

Kris mengangkat kedua tangannya lalu merangkul Sora erat. Seolah ia harus melindungi gadis itu akan berbagai kemungkinan terburuk yang dapat terjadi.

JDEERRR!!!!

Kini terdengar lagi semakin keras. Sora semakin mengeratkan pelukan Kris padanya. Ia terisak dalam diam. “Jangan takut, oppa disini.” Ujar Kris menenagkan.

Kris berbalik menatap jendela, alam dan pepohonan nampak dicuci lagi, seperti mengisyaratkan sebuah awal yang baru. Lingkungan samar dan tidak jelas terlihat dari lampu taman rumahnya. Melihat keadaan Sora yang sedikit membaik, ia mencoba merenggangkan jarak diantara keduanya.

“Tidurlah.” Ujarnya singkat pada Sora lalu melangkah keluar menuju kamarnya.

***

Kawanan burung camar terbang melintasi cakrawala menemani hening pagi harinya. Ia arahkan tangan menuju pelipis, seolah menghalangi biasan cahaya yang secara langsung mengenai retina mata. Ia teringat sesuatu, dengan gerakan cepat ia melihat calendar, benar, ini hari minggu.

Sora sampai tak ingat hari ketika ketakukan melandanya malam tadi. Tak sabar menunggu hadirnya petang ini. Dimana hanya ia dan lelaki bernama Jongin itu menghabiskan waktu bersama. Ia membuka jendela, udara sejuk nan dingin diawal musim gugur memang yang terbaik.

Setelah membersihkan diri dan memakai pakaian santai ala rumahan, Sora melenggang kearah dapur. Dilihatnya Kris yang sedang mengaduk saus bolognise untuk pasta. “Ada yang bisa ku bantu oppa?”

“Ah, ne. Ambilkan keju parmesan di lemari es lalu taburkan diatasnya. Oppa akan membereskan pan ini dulu.”

Sora meletakkan dua piring pasta sebagai sarapannya pagi ini. Tak sabar untuk mengetahui rasa masakan Kris, ia pun mengambil sesuap besar pada garpu yang ia genggam lalu melahapnya sekaligus.

“Kau sudah tidak sabar eoh?” Kris terkekeh pelan. “Kalau makan duduklah yang baik.”

Sora tersenyum sebagai tanggapan, karena mulutnya masih terisi penuh dengan pasta.

“Oppa, aku akan pergi bersama temanku nanti malam.”

“Lalu?” Kris menaikkan sedikit alisnya, sembari menuangkan air hangat untuk teh pada cangkir yang ia pegang.

“Seperti biasa aku akan meminta izin dulu darimu, oppaku tersayaang~” ujar Sora manja dan diselingi oleh kekehan kecil milik Kris.

“Baiklah, karena kemarin aku telah berjanji akan mengizinkanmu keluar setelah aku pulang.” Well, lihatlah betapa cerahnya kini wajah Sora. “Tapi kau harus ingat waktu ne? tidak lebih dari tengah malam.”

“Siap oppa! Apakah gaun dan keretaku akan menghilang setelah tengah malam?”

“Jangan samakan dengan cerita Cinderella, aigoo.”

.

.

.

***

“Jongin-ah, bagaimana kau bisa mengetahui rumahku?” Sora mengencangkan coat yang ia pakai, bisa dipastikan saat ini suhu kurang lebih mencapai 2 derajat celcius.

Jongin tak menjawab, namun Sora bersumpah sekilas melihat ujung bibir lelaki itu yang tersungging samar. Apakah Jongin barusaja tersenyum?

“Hei, jawab aku.”

Lelaki yang kini berada dihadapannya tetap diam tak bergeming, ia tetap menatap lurus kedepan. “Aku, menyuruh anak buah ottosan untuk mencari tahu rumahmu selama ini.”

“Apa?? Itu tidak sopan kau tahu.” Sora terkejut, juga tak menyangka. Apakah selama ini Jongin telah memata-matainya? Sejak kapan? Apa saja yang telah ia ketahui?

“Bukankah itu yang biasa dilakukan seseorang jika menyukai lawan jenisnya?” Pertanyaan seperti ini dianggap polos atau bodoh?

Mata Sora terbelak menjadi semakin besar. Lalu mengerjapkannya beberapa kali guna mencerna pernyataan dari lelaki dihadapannya yang kini tengah meninum machiatto pada gelas polkadot tersebut.

“A—apa?”

Juga Jongin yang barusaja tersadar akan apa yang telah ia ucapkan. Secara tak langsung ia telah mengaku bahwa selama ini ia telah menjadi stalker bagi Sora.

“Eungg, ti—tidak.” Jelas Sora tadi mendengar Jongin mengatakan sesuatu yang lain, dan dapat dipastikan saat ini Jongin telah menyembunyikan sesuatu dari Sora. Sesuatu, entah apapun itu. Terlihat kini telinga Jongin telah berubah menjadi kemerahan.

Sora sudah curiga sejak awal, tak ia sangka Jongin telah menjemput tepat didepan rumahnya. Karena yang ia tahu, tak ada seorangpun yang mengetahui tepat alamat rumahnya kecuali Sehun. Itupun Sehun baru mengetahuinya kemarin setelah mengantar Sora pulang. Dan sekarang rasa penasaran Sora seolah telah menguap.

“Apa kau tidak kedinginan? Kita bisa mengambil tempat duduk di dalam caffe saja.”

“Tidak, aku suka dengan udara seperti ini. Membuat jariku mengebas haha..” Benar kata Sora, Jongin juga merasakannya.

“Tapi aku tidak mau menghabiskan waktu hanya duduk diam di depan caffe seperti ini.” Apakah ini Jongin? Apakah lelaki yang dihadapannya ini benar-benar Jongin si muka datar yang selama ini terkenal dingin di sekolahnya? Sangat berbeda, rasanya hanya kepada Sora Jongin bersikap seperti ini.

Sora ingat saat kali pertama ia -bisa dikatakan- dengan resmi mengenal Jongin dan keluarganya, mereka sangat hangat dan nyaman. Sangat berbeda dengan Jongin di luar sana.

“Baiklah, kau mau naik gondola?”

***

“Wah, aku bisa melihat rumahku dari sini.”

“Berhentilah mengoceh nona Han. Apa kau tidak pernah menaiki wahana seperti ini?” Jongin berujar sinis namun kelakuannya tak jauh berbeda dengan Sora, ia juga menatap keluar dengan pandangan berbinar.

“Tentu saja pernah, tapi tidak di Seoul.” Sora mempoutlan bibirnya kesal, namun sedetik kemudian ia kembali meracau ini dan itu. Jongin diam-diam tersenyum geli. Ia merasakan kehangatan yang berbeda, yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Yah, mungkin dikarenakan beberapa factor, dan yang paling dominan adalah… Tidak ada yang mau memiliki teman seorang anak mafia sepertinya.

“Kau tahu? Dulu aku sangat takut dengan ketinggian. Namun setelah di Canada aku berteman dengan seseorang yang memmiliki hobby climbing, aku sudah tidak takut lagi.” Sora menatap lurus lewat jendela kaca. “Bahkan dia juga mengajariku sedikit tentang teknik climbing.”

“Apa inti dari pernyataanmu itu padaku?”

Sora menatap lekat kearah Jongin. “Intinya, kau harus memulai hal baru tuan muda Kim. Sesuatu yang baru akan membantumu menjadi lebih baik. Meskipun terasa berat diawal, tapi suatu saat kau akan menemukan titik indahnya.”

Jongin membuang muka, merasa terhakimi.

“Aku yakin kalau sebenarnya kau ini anak yang baik. Hanya saja kau harus sedikit berlatih menciptakan suasana kondusif dengan lawan bicaramu, dengan temanmu, dan dengan semua orang disekitarmu.” Dapat Jongin rasakan sesuatu yang dingin telah menggenggam tangannya. Tangan Sora.

Tersenyum, hanya itu yang dapat Jongin lakukan sebagai jawaban. Bingung harus bereaksi seperti apa.

.

.

.

***

Sudah hampir pukul 11 malam, bisa dibilang cukup lama mereka menghabiskan waktu bersama. Sora menggenggam tangan Jongin dengan tangan kirinya, dan tangan yang satu lagi ia gunakan untuk memegang waffle, sesekali menggigit waffle itu lalu menelannya perlahan.

Mereka duduk di sebuah bangku di bawah pohon oak yang terdapat di parkiran. Untuk sekali lagi Sora memakan wafflenya lahap, guna mengurangi tekanan udara dingin yang berada disekitarnya dengan waffle yang masih hangat tersebut.

Dengan gerakan perlahan Jongin melepaskan tangan Sora yang semula menggenggam tangannya, membuat Sora berbalik menghadap Jongin dengan pandangan bertanya. “Aku mau ke toilet dulu, tunggulah sebentar ne?”

Sora mengangguk pelan lalu menggigit kembali waffle yang berada di tangannya.

1 menit

.

.

5 menit

.

.

15 menit

Mengapa Jongin belum juga kembali? Hingga waffle Sora pada gigitan terakhir pun lelaki itu belum saja kembali. Sora mengeluarkan smartphonenya guna menghubungi lelaki itu, namun tidak ada jawaban.

Tak ada pilihan lain, Sora akan langsung mencarinya ke toilet. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, sesuatu telah membungkam mulut dan hidungnya. Bau alcohol sangat kentara pada sesuatu yang tengah mencekik pernapasannya. Sora ingin memberontak, namun tubuhnya terasa melemah, juga kekuatan seseorang yang berada dibelakangnya ini sangatlah kuat, tak mengizinkan Sora untuk bergerak barang sejenak.

Terlambat, pandangannya kabur. Sora tak dapat menahan berat tubuhnya sendiri. Kegelapan telah merenggut segalanya.

.

.

.

-TO BE CONTINUE-

PENTING!

Tuh.. udah di kasih clue.. aduh geregetan sendiri nih ngetiknya.. 😀 dan ada sedikit informasi, bahwa chapter depan adalah chapter END. FF ini sudah mau finish. Dan juga untuk lebih amannya, chapter depan sekaligus chapter terakhir, akan saya PROTECT (lagi). Karena masih banyaknya siders yang berkeliaran, ok?

Dan maaf kalau hasilnya gak sesuai keinginan para readers, saya udah berusaha sebaik mungkin untuk setiap chapternya, juga maaf kalau updatenya lama banget hehe. J

See you next chapter!

Untuk dapetin password, cukup contact salah satu ajah.

Twitter : @lovanita_

Line : lovanita

E-mail : rayanita76@gmail.com

Iklan

82 pemikiran pada “White “Secrets” Little Scandal [Chapter 6]

  1. Astaga kak aku benar” penasan siapa org yg udah membungkam mulut sora??? Dan kok aku curiga yah sm sehun apalagi pas sehun bawa sora ke rmhnya…

    Sebenarnya yg punya niat buruk itu Sehun atau Kai sih??
    Astaga aku greget banget kak pas bacanya… Ceritanya bagus kak😍

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s