Pendency Love [Chapter 2]

pendency

Tittle : PENDENCY LOVE

Author : morschek96 (Anita Ray)

Genre : School Life, Teen, Romance

Cast :

Kim Jaeri (OC)

Jeon Jungkook (BTS), Kim Taehyung (BTS)

Others.

Previous ; {1}

[colouring your world]

***

_

Lelaki paruh baya itu mulai memasuki ruang kelas. Sedikit membetulkan kaca mata bulat yang bertengger dihidungnya lalu menaruh tas persegi panjangnya diatas meja. Keadaan yang semula ramai kini terdengar lebih sunyi

“kali ini saya akan memberi tugas untuk kalian. Soal matematika berjumlah 100 soal—“

Woooooooo…

Belum selesai Guru Lee berbicara, para siswa sudah memprotes tidak karuan. Yang benar saja, 100 soal??

“tenang dulu.. akan saya bagi kelompok masing-masing dua orang”

“Min Yoongi dengan Park Jimin”

“Song Heera dengan Yoon Jaesuk” hingga…

“Jeon Jungkook dengan Kim Jaeri” matilah kau Jae! Bayangkan saja satu kelompok dengan anak sedingin Jungkook. Bisa dibilang si kulkas berjalan (?) Ia sedikit melirik kearah Jungkook yang berada di bangku sebelah kiri dari tempatnya, terlihat Jungkook yang masih setia terfokus pada Guru Lee. Nampaknya Jungkook tidak masalah satu kelompok dengan dirinya, kenapa malah ia sendiri yang berpikir aneh-aneh?

“tugas ini harus selesai hingga minggu depan, jika tidak maka akan saya tambah lagi tugasnya”

***

Suasana tenang terasa disetiap sudut ruangan tersebut. Juga bau khas buku-buku dan perabotan kayu yang sangat kentara menyelimuti dua sosok manusia yang sedang tenggelam akan pekerjaan masing-masing. Ah- ralat. Maksudnya hanya si laki-laki yang melakukan pekerjaan, si gadis hanya diam layaknya penonton yang duduk disebelah lelaki tersebut.

Mereka berdua sedang berada di perpustakaan sekolah. Ya, tak ada tempat lain yang pas untuk mengerjakan tugas dari guru Lee tadi karena Jungkook beranggapan kalau mereka harus mengerjakannya disekolah saja. Tidak ditempat lain. Maka dari itu dijam istirahat seperti ini mereka malah menghabiskan waktu di perpus.

Jungkook adalah murid pindahan yang termasuk pintar, lihat saja baru beberapa menit mereka duduk disini, ia sudah mengerjakan 12 soal. Wah.. Jaeri tidak salah dipilihkan teman kelompok rupanya.

“apa kau tidak mau setidaknya mengerjakan satu soal saja?” Jungkook heran, ini kan tugas kelompok tapi mengapa hanya ia sendiri yang mengerjakan? Apalagi tugas yang diberikan sejumlah 100 soal.

Jaeri tersadar dari kegiatannya memandangi Jungkook. Ia menunduk malu, apa ia harus mengatakannya kalau ia tidak terlalu bisa dalam matematika? Ah, sepertinya jangan. “n-ne akan aku kerjakan”

Huuh… baru saja Jaeri membaca soal teratas, ia malah sudah pusing sendiri. Tapi tak apalah, apa salahnya mencoba.

Butuh waktu yang lumayan lama bagi Jaeri untuk mengerjakan satu soal tersebut, hingga 20 menit kemudian ia telah selesai. Entah apa jawabannya betul atau tidak, ia bahkan ragu akan jawabannya sendiri. Tak mau ambil pusing Jaeri segera memperlihatkan hasil usahanya pada Jungkook untuk setidaknya dikoreksi lelaki tersebut.

“ya..! ini salah.. 11 pangkat dua itu 121, kenapa diawal saja sudah salah seperti ini eoh?” baru saja Jungkook melihat bagian atas dari jawaban Jaeri, nyatanya sudah ada yang salah. Matematika kalau awalnya saja sudah salah bagaimana dengan lanjutannya?

Jaeri segera menunduk tak mau memperhatikan wajah Jungkook yang pastinya kecewa besar padanya. “m-mianhe Jungkook-ssi, sebenarnya aku tidak terlalu bisa matematika” ujarnya jujur.

“huhh.. sudah kuduga, wajah-wajah sepertimu akan sangat sulit memahami soal seperti ini”

Jaeri segera membelakkan matanya, tak paham atas ucapan Jungkook. Apakah lelaki ini barusaja mengatainya tampang bodoh begitu? Tapi kalau dipikir-pikir lagi, memang ada benarnya juga sih. Jaeri bisa dikatakan pandai dalam ilmu geografi dan bahasa inggris. Tapi tidak dengan matematika.

“hmm.. kau benar aku memang begi-

Uhh, tunggu dulu. Kenapa kau bisa memahami arti wajah seseorang seperti itu eoh? Apa kau punya ilmu sihir??” mungkin Jaeri sedikit kelepasan mengontrol nada bicaranya, sekarang hampir semua pasang mata yang berada di perpustakaan tersebut tertuju padanya. Dengan segera ia membungkam mulutnya sendiri, mungkin karena saking semangatnya.

“tentu saja tidak. Tapi aku menyukai ilmu psikologi” jawab Jungkook datar. Ia mengambil penghapus lalu membenarkan jawaban dari Jaeri yang salah.

“psikologi eoh?? Ah, aku tahu tentang si pengemuka yang terkenal ahh.. siapa yahh.. aku sedikit lupa” Jaeri mencoba mengingat-ingat nama pengemuka psikologi yang pernah ia baca artikelnya di internet. Tapi.. nampaknya ia sedikit sulit untuk mengingat namanya.

“emm.. Jacob.. Jacob siapa ya??” ia sedikit menggaruk belakang kepalanya yang jujur saja tidak gatal. Apa otaknya selamban itu untuk berpikir? “emm.. ah, Jacob Black” sepertinya ia menemukan nama yang ia cari didalam kepalanya sejak tadi.

Tapi tunggu, Jacob Black? Bukankah itu nama manusia serigala di film Twilight yang sering ia tonton?

Jungkook menengadahkan pandangannya, sejenak meninggalkan soal-soal yang sebelumnya ia kerjakan dengan hati-hati. Ia menatap tajam ke arah Jaeri yang ditanggapi oleh cengiran gadis tersebut. “Jacoeb Erza” Jungkook berkata tegas.

Uih.. nyatanya Jaeri salah lagi. Terlihat senyuman gadis itu yang mulai luntur.

Menit-menit berikutnya hanya ia jalani dengan tetap diam memperhatikan Jungkook. Karena Jungkook sendiri yang melarangnya untuk mengerjakan soal-soal tersebut, menurutnya bisa memakan waktu lebih lama dan ia harus kerja dua kali untuk mengoreksi jawaban dari Jaeri.

KRRIIIIIIIIINNNNGGGGGG!!!!!

Jam istirahat telah berakhir, keduanya memutuskan untuk kembali ke kelas. Baru saja Jaeri dan Jungkook hendak keluar dari pintu, pemandangan tak mengenakkan pun terjadi, Jaeri melihat Taehyung dengan Jihyo saling berjalan beriringan sambil bergandengan tangan. Bagaikan tersambar petir di siang hari.

Melihat Jaeri yang diam mematung di ambang pintu membuat Jungkook menghentikan langkahnya, ia berbalik memperhatikan Jaeri yang masih berdiri disana. Apa gadis ini tidak mau kembali ke kelas? Jungkook berjalan mendekat kearahnya lalu mengambil posisi disebelah Jaeri. Ia memperhatikan kemana arah pandang gadis itu, hingga ia menangkap sosok yang Jaeri maksudkan dari tatapannya.

Ada seorang laki-laki dan perempuan sedang bergandengan tangan. Ohh.. ia baru sadar, bukankah itu lelaki yang selalu menunggu Jaeri dikantin dan juga sering mengajak Jaeri pulang bersama. Nampaknya ada yang sedang dilanda cemburu, batin Jungkook.

“bukankah itu lelaki yang sering bersamamu?” ucapan Jungkook berhasil membuat Jaeri kembali kedunia nyata yang barusaja ia tinggalkan dengan acara melamunnya. Ia segera melangkah menjauh, menuju kelas lebih tepatnya. Juga disusul Jungkook yang berjalan beriringan dengannya.

“iya”

“apakah yang tadi itu pacar barunya? Uhh.. terlihat cocok sekali” nampaknya Jungkook ingin sedikit main main dengan gadis ini. Tak ada salahnya menggoda Jaeri yang seprtinya tengah jealous besar seperti ini.

“diamlah” berhasil. Nampaknya Jaeri sudah emosi, hanya itu yang ia ucapkan. Dan mengingat ia mengucapkan kata tersebut dengan nada datar menyimpan amarah.

“kenapa? Ah- apa kau cemburu?”

“…”

Jaeri tak merespon dan membuat Jungkook semakin gencar melakukan aksinya.

“wah, jadi benar kau cemburu? Kim Jaeri cemburu pada sahabatnya sendiri? Ahaha-   … aww!”

Jungkook menghentikan tawa mendadak setelah ia merasakan cubitan pada sisi perutnya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Jaeri.

“kalau kau bicara lagi akan ku pukul kau!” ancam Jaeri dengan ekspresi mata marah yang berkilat. Namun sepertinya Jungkook tak takut sedikitpun akan kalimat Jaeri barusan. Ia malah tersenyum remeh saat ini.

“kau pikir aku akan takut? Badanmu itu kecil sekali, mana mungkin aku kesakitan hanya dengan pukulanmu?”

Dan yang terjadi selanjutnya adalah… Bugh! Bugh! Bugh! Jaeri memukul Jungkook dengan buku matematika tebal yang dipegangnya. Kini Jungkook yang merasa kesakitan hanya dapat menahan dengan kedua tangannya.

“Ya! Ya! Ya! Aww.. hentikan dasar gadis bar bar”

Jaeri segera melesat pergi setelah ia rasa puas menghukum Jungkook dengan buku-bukunya. Ia berjalan dengan langkah lebar-lebar agar cepat sampai dikelasnya.

.

.

.

oOo

Jaeri mendudukkan dirinya disebelah meja kasir, seperti biasa, petang ini ia bekerja di coffeeshop didaerah myeongdeong. Keadaan caffe yang lumayan sepi dapat membuatnya sedikit bersantai. Sambil memainkan smartphone ia pun mendengarkan lagu yang melantun pelan di tempat tersebut.

Hingga seseorang membuka pintu masuk dan terdengar bunyi lonceng selanjutnya, memasuki lebih dalam ke caffe dan duduk disebelah jendela kaca di sisi utara. Tak tunggu aba-aba Jaeri segera melesat kearah orang tersebut untuk mencatat pesanan.

“mwo? Apa yang kau lakukan disini?” Jaeri terkejut tatkala orang yang akan menjadi pelanggannya kali ini bukanlah sosok yang asing baginya. Jeon Jungkook

“apa urusanmu aku mau kemari atau tidak?” Jungkook menjawab ketus. Sebenarnya ia juga sedikit kaget melihat Jaeri ditempat ini juga dengan mengenakan baju pelayan.

Jaeri memutar bola matanya malas. “mau pesan apa tuan?”

“machiatto”

Jaeri segera membalikan badan setelah mendengar pesanan Jungkook, tanpa menulisnya terlebih dahulu. Untuk apa menulis kalau pesanannya hanya satu?

Baru saja Jaeri beberapa langkah menjauh, lelaki semampai itu memanggilnya kembali

“pelayaaannn~” ucap Jungkook manja. Mendengarnya saja dapat membuat telinga Jaeri geli, mati-matian untuk tidak melempari Jungkook dengan vas bunga yang terletak dimeja dan membuat Jungkook amnesia permanen. Hmm.. mau apa lagi bocah satu ini?

Jaeri segera melangkah mendekat tanpa mengucapkan suara apapun. Ia menatap Jungkook seolah bertanya `ada apa?`. Dan ditanggapi Jungkook dengan memasang senyum miringnya.

“setelah pesananku jadi, temani aku disini” ujarnya santai. Mata Jaeri terbelak, apa-apaan? Ia kan sedang bekerja, mana bisa lelaki ini meminta ditemani dirinya.

“tapi tuan, aku sedang bekerja” Jaeri mengucapkan kelimat tersebut dengan nada yang penuh dengan penekanan juga senyum yang sangat ia paksakan. Setidaknya ia tidak akan bertingkah aneh-aneh selama berada ditempat kerja, seperti memukuli Jungkook seperti tadi siang contohnya. Ia pasti akan segera mendapat teguran jika itu benar terjadi.

“ayolah noona.. aku lihat caffe ini juga tidak terlalu ramai” apa lelaki ini bilang? Noona? Ia barusaja dipanggil noona? Huuh sok muda sekali, padahal mereka kan seumuran. Jaeri sedikit mengedarkan pandangannya, tidak ada siapa-siapa. Mungkin bosnya sedang ada diruangannya, hanya ada beberapa pelayan dan penjaga kasir. Mungkin takkan masalah.

“baiklah” ujarnya cepat lalu melangkah ke tempat coffeemaker.

Beberapa saat kemudian Jaeri kembali dengan membawa secangkir machiatto diatas nampannya. Ia meletakkan diatas meja lalu mengambil duduk berhadapan dengan Jungkook.

“ini gratis” Jungkook menjengit tak paham atas ucapa Jaeri? Kenapa gratis? Gadis ini tidak akan macam-macam kan? Seperti memberi racun didalam minumannya.

“wae?” tanyanya penasaran.

“aku ingin membayar hutangku padamu” bukankah Jaeri pernah meminjam uang Jungkook ketika ditoko buku? Apa secepat itu lelaki ini lupa eoh? Dan sepertinya lelaki ini memang tak ingat, ia tetap menatap Jaeri dengan pandangan bingung.

Jaeri menghembuskan napasnya kasar, sedikit jengah akan ekspresi bodoh lelaki didepannya saat ini. “aku pernah meminjam uangmu dengan paksa saat didepan toko buku,”

Dan Jungkook hanya menanggapi dengan membuat tanda ‘o’ pada gerakan bibirnya tanpa bersuara. Jungkook segera meminum machiatto pesanannya lalu kembali menatap Jaeri.

“aku tidak tahu kalau kau bekerja disini”

“aku masih baru, kurang lebih masih dua bulan. Kau habis dari mana?” oke, ini adalah keadaan tercanggung yang pernah Jaeri alami. Mengingat ia selalu akan menjadi sangat cerewet kalau bersama Taehyung ataupun Heera.

“dari rumah Jimin. Aku baru saj—“

“Jaee..”

Belum Jungkook melanjutkan kalimatnya, teman kerja Jaeri pun memanggil dari tempat kasir. Sepertinya memerlukan bantuan, Jaeri segera bangun dari duduknya lalu melangkah kearah kasir.

Hingga tinggallah Jungkook seorang diri, beberapa menit selanjutnya hanya ia lakukan dengan menghabiskan machiatto sambil memainkan smartphonenya. Jungkook berdecak sebal, sebaiknya ia keluar dari sini sebelum ia mati kebosanan.

Jaeri hendak saja ingin kembali ketempat Jungkook berada, namun ketika ia melihat kearah tersebut nyatanya Jungkook sudah tidak ada disana. Huuh.. kenapa cepat sekali menghilangnya?

***

Pukul 21.00 tepat. Waktunya bekerja telah selesai, ya mengingat ia hanya bekerja paruh waktu, jadi ia dapat lebih dulu pulang. Jaeri segera meninggalkan apron dan seragamnya di lemari pegawai lalu memakai baju casualnya.

Ia melangkah pelan menuju halte didepan tempat kerjanya. Semenjak kejadian Taehyung berbohong padanya, entah mengapa terasa ada yang mengganjal dihubungan keduanya. Mengingat betapa dekatnya mereka dulu. Namun saat ini malah seolah Taehyung sedang menjaga jarak dengannya.

Taehyung tak lagi menemani waktu istirahatnya, apalagi menjemputnya saat pulang kerja. Sedikit merasa kehilangan jujur saja.

Hampir saja Jaeri sedikit kehilangan keseimbangan, tatkala terkejut karena ada sebuah mobil yang berhenti tepat disampingnya. Mencoba menerka-nerka siapa orang yang barusaja mencoba membunuhnya. Seseorang yang duduk dibalik kemudi itupun menurunkan kaca mobilnya hingga Jaeri dapat jelas melihat wajah orang tersebut.

“yaakk! Apa kau sengaja ingin membunuhku?!!” tak tanggung-tanggung, Jaeri langsung memukul kaca mobil tersebut setelah mengetahui siapa orangnya.

“aku hanya ingin menawarkanmu tumpangan noona” jaeri menatap jengah orang tersebut. Tak henti-hentinya seharian ini menggganggu hidupnya. Jeon Jungkook, sungguh nama yang menyebalkan sama seperti orangnya.

Tapi kalau dipikir lagi, ia akan lebih cepat sampai dirumah jika menerima tawaran lelaki ini. Ah, ide bagus, meskipun ia sungguh enggan diawal-awal.

“baiklah. Tapi kau mengemudi yang benar, ne?” dan Jungkook hanya mengangguk sebagai jawaban.

Keduanya tak banyak bicara selama diperjalanan. Mungkin karena Jaeri yang terlalu lelah hanya untuk sekedar membuka suara, namun bagaimana dengan Jungkook? Apa lelaki ini juga lelah? Jaeri rasa tidak, terbukti dari sosoknya yang masih duduk mengemudi dengan khidmat.

“setelah ini belok kemana?” Jungkook bertanya setelah keduanya memasuki kawasan rumah Jaeri.

“kanan. Nah.. itu rumahku yang pagarnya coklat” Jaeri memberi arah kepada Jungkook. Dan benar saja, ia sampai 15menit lebih cepat dari biasanya.

Jaeri segera membuka seatbeltnya lalu menghadap Jungkook sambil tersenyum tipis. “gomawo” ucapnya lalu turun dari mobil putih milik Jungkook.

Sedikit melambaikan tangannya lalu menunggu sosok Jungkook yang akan menghilang dari pandangannya saat berbelok ditikungan jalan.

.

.

.

oOo

Ini sudah hari kedua bagi Jaeri tak berhubungan dengan Taehyung sejak hari dimana ia diabaikan –taehyung dan jihyo mengabaikannya- . tak banyak yang berubah dari sosoknya, ia masih ceria seperti biasa. Namun apa guna perasaan? Ia juga merasa seperti dijauhi dan diabaikan saat ini.

Apa Jihyo sepenting itu daripada dirinya? Ia mengenal Taehyung selama 4 tahun lebih, sedangkan Jihyo bahkan baru bertemu Taehyung di SHS ini. Kalau boleh jujur, ia merindukan lelaki itu. Bagaimanapun perasaannya pada Taehyung masih sama, ia masih menyayanginya, menyayangi dalam arti lebih dari sekedar sahabat. Tapi ia sadar, Taehyung tidak mempunyai perasaan yang sama, bahkan Jaeri berani bertaruh kalau Taehyung tidak peka akan perasaannya.

Disaat yang bersamaan, melihat Jaeri yang hanya diam melamun memandangi buku tanpa ada minat untuk membaca, seseorang yang duduk berhadapan dengan Jaeri pun berseringai nakal. Ia akan sedikit main-main dengan gadis ini. Ia dengan gerakan cepat menurunkan buku yang Jaeri buat untuk menutupi wajahnya yang sedang melamun. Jelas sangat kentara di wajah Jaeri jika ia sangat terkejut. Berkali kali ia menghembuskan napas kasar seraya mengelus dadanya pelan.

“berhentilah main-main Jungkook-ssi, cepat kerjakan agar aku cepat kembali ke kelas” ucapnya tak bersemangat. Lagi-lagi ia dengan namja imut bernama Jungkook ini kembali berada di perpustakaan sekolah untuk mengerjakan tugas kelompok mereka.

Jungkook mendengus kesal, sekalian saja ini menjadi tugas individu. Toh yang mengerjakan hanya ia seorang diri, Jaeri hanya diam menemani seperti biasa. `Dasar tidak berguna` Jungkook membatin dalam hati.

“apa yang mengganggu pikiranmu hah?”

“annio” Jaeri menunduk dalam. Ia tak mau raut muka menyedihkannya dapat terlihat oleh Jungkook. Sebisa mungkin menyembunyikan kesedihannya. Ia hanya merasa bahwa alasannya untuk tertawa sudah tak ada ketika ia sadar bahwa Taehyung menghindarinya. Lelaki itu segalanya bagi Jaeri.

Lalu Jungkook hanya mengangguk beberapa kali sebagai jawaban. Nampaknya ia juga tidak mau terlalu ikut campur masalah gadis ini. Jungkook segera melanjutkan kegiatannya pada soal-soal yang berada dihadapannya. Ini sudah soal ke 47, ia hebat kan? Dapat menyelesaikan 47 soal matematika sendirian dalam waktu 3 hari.

“apakah kau percaya pada teori bahwa cinta tak harus memiliki?”

Jungkook menghentikan pekerjaannya sejenak, lamat-lamat menatap Jaeri dengan pandangan yang.. entahlah. Mengapa gadis ini tiba-tiba bertanya seperti itu.

“hell no” Jungkook berujar pelan lalu menyambung kegiatannya yang sempat tertunda.

Jaeri terdiam setelah mendengar jawaban Jungkook. Bisa-bisanya lelaki ini dengan enteng menolak teori tersebut. Sedikit penasaran apa alasan Jungkook berkata seperti tadi “kenapa?”

Kini tatapan Jungkook sudah 100persen tertuju pada Jaeri. Mungkin akan sulit jika ia menjelaskan panjang lebar, untuk itu mungkin akan ia permudah saja kalimatnya. “ bulshit kalau ada yang mengatakan jika cinta tak harus memiliki. Karena yang akan selanjutnya dirasakan adalah sakit hati. Dan kalau ada yang masih kekeuh mengatakan kalau ia akan rela melepaskan orang yang dicintainya asalkan orang tersebut bahagia, maka dapat dipastikan dia bohong”

Jaeri menyerengit akan ucapan Jungkook. Namun yang ia rasa ada benarnya juga, ia merasa tidak rela dan membuat hatinya sakit.

“ tidak mungkin ada orang yang bahagia jika orang yang dicintainya lebih memilih bahagia bersama orang lain dan bukan dirinya. Terutama ia akan membohongi dirinya sendiri. Dan itu namanya munafik” Jungkook menimpali serentetan kalimatnya dengan kata-kata yang.. yah, lumayan pedas. Jaeri kini terlihat lebih diam, rasanya semua kalimat Jungkook barusan sangat cocok menggambarkan dirinya.

“tapi kalau memang kenyataannya orang tersebut bahagia melihat orang yang dicintainya bersama orang lain bagaimana?”

Pertanyaan terakhir Jaeri membuat Jungkook berpikir, ia hendak mengatakan dengan lantang `kalau begitu orang tersebut tidak benar-benar mencintainya`, namun dengan segera ia urungkan. Ia sendiri tidak yakin akan jawabannya itu.

Jaeri memperhatikan Jungkook yang terlihat serius sedang berpikir untuk menjawab pertanyaannya, sedikit mendapat ide. Ia melemparkan penghapus karetnya tepat diwajah Jungkook dan membuat lelaki itu terkejut.

“tidak perlu memikirkannya sampai seperti itu” Jaeri tertawa mengejek setelah mendapati wajah lucu Jungkook saat terkejut tadi. Jaeri ingin balas dendam nampaknya, ia telah lebih dulu dikejutkan Jungkook kan.

Tak tinggal diam Jungkook melemparkan bolpoin yang ia genggam pada Jaeri. Disusul Jaeri yang juga melemparkan apa saja yang berada dihadapannya pada Jungkook. Mereka bahkan lupa jika masih berada di perpustakaan, sangat berisik.

Jungkook akui menjadi siswa baru disekolah memang tidak mudah baginya. Diawal ia sangat merasa asing dan sendiri, hingga ia mengetahui kalau ia satu kelas dengan Jimin, teman lamanya. Ditambah lagi sekarang ia mengenal Jaeri.

Setidaknya ada dampak positif yang ditimbulkan akibat ia dipasangkan satu kelompok dengan Jaeri. Gadis itu baik dan mudah akrab. Dengan segala tingkah konyolnya mampu membuat Jungkook tersenyum dalam diam. Jaeri sedikit banyak telah mewarnai hari-harinya, bahkan warna-warna itu telah tumpah kemana-mana akibat ulah Jaeri.

Hmm..

***

Malam ini Jungkook kembali mengunjunginya di tempat kerja, namun tak hanya mengunjungi. Lelaki itu bahkan menunggunya sampai pulang. Didalam mobil Jaeri tak henti-hentinya tertawa akibat Jungkook yang terus-terusan mengatakan beberapa hal tentang dirinya di masa lalu, bahkan ia mengatakan kalau dulu Jimin sering mentraktirnya makan. Bahkan saat ia tak meminta pun Jimin dengan sukarela mentraktirnya.

Hingga mereka tiba dikawasan rumah Jaeri, Jaeri mengedarkan pandangannya ketika sadar kalau ini adalah daerah rumah Taehyung. Ya, rumah mereka memang berdekatan, hanya beda beberapa komplek dari rumahnya, jadi tak heran mereka dulu bisa sampai sedekat itu.

Jaeri sedikit menyipitkan matanya guna memperjelas pemandangan yang berada tak jauh didepannya. Sepertinya itu rumah Taehyung. Tapi kenapa terlihat ramai sekali? Banyak mobil yang terparkir didepan rumah Taehyung. Ketika mereka tepat melewati rumah Taehyung, memang benar, ternyata banyak anak-anak yang satu sekolah dengan mereka tengah berkumpul dirumah Taehyung.

Jaeri tak paham, apa Taehyung sedang mengadakan pesta? Tapi kenapa ia tidak memberitahunya? Padahal mereka kan sahabat. Jaeri meminta Jungkook untuk memutar balikan mobilnya, ia ingin mampir sebentar ke rumah Taehyung.

“aku disini saja” ucap Jungkook pelan. Well, ia tidak mengenal Taehyung jadi buat apa ia ikut masuk kedalam.

“ne, aku tidak akan lama” Jaeri membuka pintu yang berada disampingnya lalu melangkah masuk ke kediaman Taehyung.

Ia sedikit terkejut atas apa yang tengah Taehyung lakukan saat ini, ia tahu kalau lelaki tersebut tinggal seorang diri karena orang tuanya berada diluar negeri. Tapi Jaeri tak menyangka Taehyung akan melakukan hal seperti ini mengingat tidak ada orang tuanya.

Jaeri sedikit membuka pintu rumah Taehyung, terlihat semua orang yang berada disini memang satu sekolah dengannya, namun Jaeri tak mengenal banyak diantara mereka. Mungkin karena memang dirinya dan Taehyung tidak berada dalam kelas yang sama.

Melangkah masuk dan dengan perlahan mengedarkan pandangannya guna mencari Taehyung. Namun karena banyaknya orang di tempat tersebut sedikit menyulitkan kegiatannya, apalagi dengan adanya music yang dipasang keras-keras. Sungguh sangat berisik. Saat hendak ingin lebih masuk kedalam rumah, ada seseorang yang mengentikan langkahnya. Ia menatap orang tersebut, tak terlalu kaget akan kehadiran Jihyo.

“dimana Taehyung?” Tanya Jaeri halus.

“dia sedang bersenang-senang tentunya” Jihyo menjawab sinis pertanyaan Jaeri. Tak menyangka gadis seperti Jaeri ikut andil dalam pesta seperti sekarang.

“apa maksudmu bersenang-senang?” Jihyo menarik lengan Jaeri bertujuan agar mengikutinya. Mereka berada di teras rumah Taehyung, setidaknya telinga Jaeri sudah tidak terasa sakit lagi karena musiknya tidak terlalu terdengar diluar.

“kau Jaeri kan?”

Dan Jaeri hanya mengangguk pelan.

“kau itu.. emm bagaimana aku mengatakannya ya?? Apakah kau tidak sadar bahwa dirimu telah menjadi penghalang bagi Taehyung? Lihat saja sekarang, dia mengadakan pesta tapi sama sekali tidak mengundangmu” Jaeri tercengang akan ucapan Jihyo. Apa ia bilang tadi? Penghalang?

“kau itu sangat tidak pantas menjadi teman Taehyung, kau lihat semua anak yang berada didalam tadi? Merekalah teman Taehyung, bukan kau. Sebenarnya Taehyung sudah ingin mengatakannya padamu, tapi aku wakilkan saja. Mulai sekarang kau tahu dimana posisimu kan?” Jihyo memberikan senyumannya pada Jaeri,

Jaeri tak lagi dapat berkata-kata. Lidahnya terasa kelu. Ingin ia menangis saat ini, namun ia sadar kalau hal itu terjadi akan semakin mempermalukan dirinya sendiri.

“kalau begitu sampaikan kepada Taehyung kalau aku tidak ingin bertemu dengannya lagi” Jaeri berujar pelan sambil memaksakan senyumnya. Lebih baik ia pergi sekarang juga.

Baru beberapa langkah Jaeri berjalan, seseorang memanggil namanya. Dari suaranya ia dapat langsung menebak siapa yang telah memanggilnya. Taehyung

Jaeri membalikkan tubuhnya sebentar menghadap Taehyung dan Jihyo yang berdiri bersebelahan. Tak mau ambil pusing, ia segera melangkahkan kakinya cepat menuju Jungkook yang berada didepan bersama mobilnya.

Taehyung tak paham, ia menoleh kepada Jihyo seakan meminta penjelasan apa yang barusaja terjadi. Namun yang Jihyo lakukan hanya tersenyum tanpa dosa. “aku hanya mengatakan yang sebenarnya”

.

.

-TBC-

Lanjut??? jangan lupa comment

Iklan

23 thoughts on “Pendency Love [Chapter 2]

  1. tuh kan kak nggak bisa banget kalau bayangin jungkook sikapnya dingin pas di beberapa bagian juga jungkook lebih terkesan usil daripada dingin hehehe

    ugh taehyun bikin greget beneran udahlah jaeri kan ada jungkook cobalah tatap dia oke^^

    Suka

  2. Oppa daebak dalam waktu 3 hari oppa bisa ngerjain tuh soal sebanyak 47 lah kalo aku ngerjain tuh soal sampe berminggu-minggu 😀 apa jungkook mulai suka ya sama jaeri? Sebenarnya apa mau nya jihyo? Gak mungkin kan taehyung bilang kek gitu sama jaeri? Oppa masih menganggap jaeri sahabat kan? Kenapa di rumah nya taehyung ada pesta?

    Lanjut ya kak….

    Suka

  3. Kereeen!!!akhirnya setelah ditunggu2 muncul jg kekekeke thor kayaknya fans runningman jg ya??? Ada jaesuk sama jihyo jg xD kekeke aku jg fansnya runman kok thorrr lanjutannya cepetan ya thorr g sabarrr kekeke

    Suka

  4. annyeong thor! aku reader baru disini. krn aku udah baca part 1nya jd sekalian aku komen disini aja hehe. suka bgt sama ceritanya. dam ga kebayang Jungkook punya sifat dingin. tp tetep aja lucu. lanjut thor next chap!!!

    Suka

  5. Ping-balik: Pendency Love [Chapter 3] | A.R's Fanfiction

  6. Ping-balik: [BTS FF Freelance] Pendency Love (Chapter 3) | BTS Fanfiction Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s